Langsung ke konten utama

April 7, 2019

Kucing mempunyai kesan tersendiri untuk saya, walaupun bukan seorang pecinta kucing. Namun tiap kali tidak sengaja melihat dan atau berpapasan dengan makhluk satu ini, kedua mata saya akan langsung tertuju padanya. Biasanya yang lebih dulu saya perhatikan adalah tampakan fisiknya, mulai dari warna bulu, ketebalan bulu, bentuk muka, warna mata, sambil menerka perilakunya seperti apa. Apakah akan jinak dan malu-malu atau garang dan bertingkah semaunya. 

Ada yang bilang kucing teman terbaik, pendengar terbaik, selalu antusias saat diajak bermain. Bagi saya hal itu dapat terjadi tidak lebih karena kucing memiliki sifat penurut dan tentu saja hewan peliharaan bukan? Berbicara mengenai penggolongan jinak dan buas, secara pribadi ini mengindikasikan bahwa pada dasarnya manusia memiliki keinginan untuk mengontrol hal-hal di luar dirinya. Katakanlah kucing, bila dapat dikontrol maka ia digolongkan sesuatu yang jinak. Ya barangkali juga penanda relasi kuasa, seorang manusia berkuasa atas hal-hal yang jinak di hadapannya. Mengenai yang liar, mengapa digolongkan demikian? Mungkin karena tidak bisa dikontrol, manusia menilainya sebagai ancaman dan bahaya. Hal ini menimbulkan kecemasan, ketakutan, dan manusia harus berhati-hati terhadapnya. Sedikit saja lengah dapat berakibat fatal. Manusia dapat mati dibuatnya. Jika diurutkan, manusia ada di tengah di antara yang jinak dan liar. Jinak berada di sebelah kanan sedangkan yang liar di sebelah kiri. Posisi ini saya maksudkan sebagai tanda yang kanan adalah hal-hal yang baik (saja) dan yang kiri adalah hal-hal yang tidak baik. Padahal seharusnya sebagai manusia paham bahwa yang baik dan yang tidak baik tidak dapat berdiri sendiri. Mereka ada secara berpasangan. Mereka adalah contoh keseimbanban, yin dan yang. Jadi bukan hal yang baik jika ia tidak mempunyai pasangan yang tidak baik, atau sebaliknya. Mengenak kematian lebih lanjut Camus pernah mengatakan ini, bahwasanya kematian adalah satu-satunya hal pasti dalam hidup. Rupa-rupanya manusia menjadi kerdil di hadapan hal yang pasti.

Ah kembali membicarakan kucing, saya menyukai kucing hanya untuk memuaskan kebutuhan visual. Saya menyukainya apabila ia lucu dan tentu saja jinak akan menjadi nilaj tambahan. Jujur saya bukan pribadi yang menyukai kucing karena keinginan untuk merawatnya. Tidak. Merawat kucing, katakanlah makhluk hidup, bukan perkara gampang. Saya harus rutin menjaga kesebersihan kucing, memandikannya dengan produk anti kutu, harus sering-sering dibawa ke dokter, divaksin, diberi makan. Belum lagi kalau mau kawin, sedang hamil, kemudian melahirkan. Repot pasti. Untuk merawat diri sendiri saja sudah menjadi hal yang extra. Tapi khusus untuk memberi makan, mungkin tidak akan memberatkan karena saya tinggal pergi ke pet shop dan memilih makanan mana yang kira-kira pas dan akan dihabiskan. Saat proses memberi makan terjadi saya tinggal duduk manis di samping kucing sambil sesekali mengelus bulunya dan mengeong pelan walaupun tidak memahami maknanya. Itu saja.

Saya belum benar-benar menyukai kucing mungkin karena sewaktu kecil, saya sering ditakut-takuti dengan kucing. Kebetulan tetangga saya punya banyak kucing, jumlahnya lebih dari sepuluh. Suatu hari saya datang ke rumahnha dengan maksud mengajak bermain si kucing. Tapi yang terjadi adalah siku tangan dicakar sampak berdarah dan meninggalkan bekas luka sampai sekarang. Kemungkinan yang kedua, dulu sekali saya punya dua kelinci. Keduanya berwarna putih. Sesekali mereka dibawa keluar untuk merasakan matahari pagi. Mereka mempunyai mata berwarna merah. Suatu hari ketika sedang berjemur, seekor kucing liar menerkamnya. Memangsanya dengan ganas. Kelinci saya tidak berdaya. Lehernya tercekik oleh taring si kucing. Darah yang pekat berceceran dimana-mana. Saya cuma bisa menangis sejadi-jadinya. Sedih sekali mengingat kejadian waktu itu. Sejak kelinci saya dimakan oleh seekor kucinb liar, sejak itu pula saya memusuhi kucing. Dalam kepala saya, kucing bukan lagi hewan yang lucu melainkan hewan yang mengerikan. 

Lalu apa bedanya dengan manusia, kita sering sekali disakiti dan menyakiti sesama. Manusia juga sangat sering meninggalkan luka yang mendalam, luka secara fisik, luka mental, dsb, sehingga bekasnya sulit dihilangkan. Manusia itu mengecewakan, seoramg teman pernah berpesan ini pada saya beberapa minggu yang lalu Walaupun demikian, kita masih dapat menyayangi dan mangasihinya. Mengapa bisa seperti itu. Apa bedanya manusia dengan beberapa ekor kucing yang pernah meninggalkan kesan tidak baik pada diri kita. Manusia ini punya ekspektasi, jika ia berniat baik maka ia berekspektasi hal-hal yang baik juga. Di sekitar kita, adakah manusia yang trauma pada sesamanya? Atau jika ya, mengapa manusia masih mau mengasihi dan menyayangi manusia lain? Apakah ini cukup adil bagi seekor kucing? Mungkin saja kucing yang meneyarang saya waktu kecil merasa terancam dengan kehadiran saya. Katakanlah saya ini makhluk asing. Karena hal itu, si kucing jadi khawatir saya akan menyakitinya. Lalu kucing yang kedua, mungkin saja ia sedang sangat-sangat lapar. Mungkin beberapa saat sebelum kejadian itu, si kucing dibiarkan lapar dan tidak diberi makan oleh manusia-manusia di sekitarnya. Ia membunuh kelinci saya hanya untuk bertahan hidup. Bukankah itu hal yang wajar? Lantas mengapa saya harus marah? Apa yang salah dengan saya? Jika manusia dan kucing sama-sama dapat membuat luka, lantas apa pembedanya? Menanggapi hal ini, saya mau share satu link dari youtube yang menayangkan animasi pendek berjudul Amy. Pembaca dapat langsung klik tautan 'Amy' di bawah ini. Selamat menyaksikan :)

Amy 

Jekardah, April 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Choices

There will always be the first time for everyone. The first time to hear, the first time to feel, the first time to move, the first time to breathe and cry, the first time to drink, the first time to eat, the first time to respond, the first time to play, the first time to play together and solve the very own problem, the first time to enter school, the first time to teach, the first time to talk and engage with numerous audience, the first to be and do anything. . .till it becomes one day. . .the thing that was hard and challenging, could become a piece of cake. It takes courage, it takes sweat and tears, it takes sleepless nights, it takes restless days, it takes commitment, it takes everything. Maybe it takes your happiness away either. It may seem scary and it may seem crazy. It requires self and stress management. I always have choices amongst these options. I commence to reflect. Back then, I love to  compare people, wether it would be worth it or not at all. I compare A to B...

The Most Precious Thing

To my fiancé, thank you for being a strong man even when hard times still hit that hard. Your 'cegil' is so proud of you. Dear Dadda K, to be with you has taken me to love myself more. Thank you for being gentle and listening to me and us. I have never felt less as a woman because I finally found my real power. Through the peaks and valleys, through the lengthy journey, I do believe the right train will never pass us by. In this horse year, let's be more kind to each other. Let kindness be the beginning of our story. Dear Daddy K, there were moments I might be afraid of losing us. The worries somehow spiraling. At the end I have to decide and take an action of not letting the hassle consuming me more. The peace, positivity, and tenderness are greater. This morning I looked at myself through the mirror. I asked, "who is this girl I see?" It instantly brought me back to you. I am loved, and your actions are the living proof. It's not only a love letter. I wrote ...

The Awakening of New Energy

This one week, my mind buzzed. I know I had a lot to express. I always feel the urge to talk to people and barely know when to stop. I love creating world with words. Words are playground to me. Sometime I could slide, hop, roll forward, slither, or simply sit and watching people passing by. It's not a bout fun, but it's the awareness of creating more and more. I will try to invest 1 hour each day to write, to think, to get lost, to be found, to express, and write again. Over and over. I hope there will be more people connect and read me. Insya Allah 🤍