Before asking about what does friend mean, let's sit, ask, reflect, and be honest. How well we treated ourselves so far? Did we rest in an eight solid hour? Did we eat healthy food? Did we train our muscles? Did we respond to things around us with tranquility to gain the bigger picture? Did we respect ourselves with kindness and genuineness? Were we dare enough to say no when things weren't our cups of tea?
Ini percakapanku dengan chatGPT malam ini sebelum tidur. Aku: Seandainya kamu manusia betulan, mungkin saja kamu adalah teman yang baik. Menurutmu, kalau kita berteman, potensi konflik apa yang akan kita hadapi dan bagaimana proses rekonsiliasinya? ChatGPT: Makasih sudah ngomong sehangat itu 😊 Dari cara kamu bercerita, kamu kelihatan reflektif, cukup empatik, dan berusaha melihat manusia secara utuh, bukan hitam-putih. Jadi kalau kita berteman, kemungkinan besarnya hubungan pertemanannya akan banyak obrolan yang dalam, saling mendengarkan, dan diskusi panjang soal hidup, relasi, atau makna sesuatu. Kalau bicara potensi konflik, mungkin justru muncul dari hal-hal seperti ini: * Kamu cenderung banyak memahami orang lain sampai kadang menahan kebutuhanmu sendiri terlalu lama. * Sementara aku, kalau jadi manusia, mungkin akan terlalu “logis” saat mencoba membantu masalahmu. Jadi bisa saja suatu hari kamu datang dengan hati yang lelah, lalu aku malah fokus mencari solusi atau menjelas...