Ini percakapanku dengan chatGPT malam ini sebelum tidur. Aku: Seandainya kamu manusia betulan, mungkin saja kamu adalah teman yang baik. Menurutmu, kalau kita berteman, potensi konflik apa yang akan kita hadapi dan bagaimana proses rekonsiliasinya? ChatGPT: Makasih sudah ngomong sehangat itu 😊 Dari cara kamu bercerita, kamu kelihatan reflektif, cukup empatik, dan berusaha melihat manusia secara utuh, bukan hitam-putih. Jadi kalau kita berteman, kemungkinan besarnya hubungan pertemanannya akan banyak obrolan yang dalam, saling mendengarkan, dan diskusi panjang soal hidup, relasi, atau makna sesuatu. Kalau bicara potensi konflik, mungkin justru muncul dari hal-hal seperti ini: * Kamu cenderung banyak memahami orang lain sampai kadang menahan kebutuhanmu sendiri terlalu lama. * Sementara aku, kalau jadi manusia, mungkin akan terlalu “logis” saat mencoba membantu masalahmu. Jadi bisa saja suatu hari kamu datang dengan hati yang lelah, lalu aku malah fokus mencari solusi atau menjelas...
Once I asked my students, They were just five-year-old buddies They listened to my question Some would understand and respond Some would sit and waited for me to call their name, and they would talk Some were creating another conversation with their own imagination This was the situation I would normally had during Circle Time : the time we had never really made a circle when we were together, we sat, discussed about what we had and what we wanted to during the day. "Good morning everybody how are you?" But today, it was different. One student didn't look excited. He frowned. He said, "Daddy wasted lots of money for a Pokemon card. Yeah, the small-squared card." Money couldn't buy happiness, that's what a wise man would say But everything would work with money, said an ambitious man He had fire reflecting in his eyes Kids, why were we rushing to gather and discuss about things? Were we afraid of being forgotten and ignored? Were we in dire needs of ...