Langsung ke konten utama

Postingan

Mendongeng

/1/ Mendongeng tentang daun pintu yang mulai melengkung saat hari bertambah panas tentang jendela kamar yang gagal meloloskan partikel cahaya setelah fajar tentang kunci yang macet saat hendak dicabut dari lubangnya tentang sepatu yang berserakan di depan kamar, lalu dijadikan alas tidur oleh kucing tak bertuan tentang anak tangga yang keropos dan tampak tidak begitu aman tentang teras yang lebih kotor saat akhir pekan berakhir - aroma gosong yang tercium di dapur - sisa makanan dan tangis yang menyumbat saluran wastafel - juga biang roti yang tersimpan hampir sepuluh hari dalan lemari pendingin Mendongeng  tentang kekasih yang merokok di hadapanku duduk menahan sakit akibat luka yang terinfeksi menahan demam dan kantuk dengan papan caturnya Kekasihku bermain sendirian Sedang aku di hadapannya mengawasi dengan kepanikan Gerimis seolah selalu memenangkan pertarungan Lantas mengapa raja bisa ditipu begitu saja oleh pion biasa? /2/ Aku, barangkali juga kamu terburu-buru menggeser bida...

Insecure

Hal yang paling merepotkan buat saya saat ini adalah insekuritas. Akibatnya saya gampang marah, sebentar-sebentar drama. Mengapa saya merasa insecure? Saya kerap kali membandingkan diri saya dengan yang dulu, betapa kuatnya saya dulu, betapa batunya saya dulu, terutama soal kontrol dan dikontrol oleh orang lain, at least I know when to kiss I know when to pray. Itulah penyebab ensecurity-nya.  By the way, kapan terakhir kali kamu marah dengan dirimu? Apa yang kamu sadari? Apakah dirimu sendiri sangat sulit dikendalikan? Bagaimana kamu berurusan dengan dirimu yang mudah merasa tidak aman? Apakah kamu akan memaafkan dirimu yang kerap bertikai sendiri dengan dirimu?

Cih!

Ada yang lebih peka mendengar dari telinga Ada yang lebih perasa dari kedua bola mata yang basah Dan jantung yang berdentum di kerangkeng dada Ada yang lebih berprasangka baik dari kedua tangan yang tengadah dan pikiran lurus, sebab ia mencoba menyisir yang kusut, melerai yang sengit Selembar kertas kosong, meski tidak lapang Bersedia mendengar cerita, omong kosong, janji manis, mulut buayamu Selembar kertas, bila ditulisi 'ah'  Maka bergetarlah bumi Kesedihan rontok dari langit, tanah pun limbung menerimanya Aku berpijak di atas tanah yang basah Sebab hujan terdengar seperti tangis yang tak kunjung kering Konstan dan statis Dalam tidur, aku tidak kemana-mana Bahkan mimpi tampaknya mulai sungkan menculikku Aku dibiarkan begitu kesepian, membereskan tangis yang berserakan di kamar Seseorang tidak kubiarkan masuk Meski sekarung peluk dibuatnya menjadi lebih manis Barangkali akan kulemparkan ke luar Waktu begitu liar, waktu juga yang akan mengurai

KACAU

Usia tidak pernah benar-benar menjamin dirimu menjadi dewasa Tumbuh tanpa menjadi benalu mesti dicari Ia tidak datang sendiri seperti bencana Atau benci ketika sedang marah Ketika kau cari Maka carilah di sela-sela rambut yang terikat dan terjepit Di lubang kancing baju yang sempit Di perut yang sedikit-sedikit sembelit Atau kantong celana yang menjerit Sebab uang sakumu meluap Sebelum sempat kau bekukan ke dalam buku tabungan Menjadi dewasa sungguh sulit Usahamu harus setinggi tiang listrik Seliar belut yang meloloskan diri dari gerammu menahan lapar Segigih tangis anak gadis yang dilecehkan Seawet buku garansi menanggung kerusakan fisik dan mental Setajam ujung silet, sebab jika tumpul Kumis dan janggutmu akan terpangkas sebagian Wajahmu menjadi tidak simetris Dan perhatiamu teralihkan  Pelan-pelan kau tinggalkan tujuanmu Kau berjalan sambil meraba Dimana ujung perjalanan yang panjang Bukannya menangis dan berbalik arah Kau malah berjalan semakin cepat Mengepal tinju Kau anak gad...

Reflektif di Akhir Pekan

  Semalam saat hendak tidur, saya berencana bangun lebih siang.  Betul saja, mata baru benar-benar melek sekitar jam 10 lewat. Seperti biasa, sebelum melakukan aktivitas berat, saya minum segelas air dan merebus sayuran kesukaan saya untuk dimakan saat sarapan. Sambil sesekali mengecek ponsel untuk membaca 1 chapter manga Bleach. Baru satu minggu ini saya mulai lagi mengurangi konsumsi karbohidrat. Sejak wfh, gerak fisik pun terbatas, jadi tidak heran kalau berat badan pun naik beberapa kilo. Berbekal jargon 'aku menyayangi tubuhku' saya tidak begitu memedulikan perubahan fisik pada tubuh karena yang menjadi prioritas saya adalah pekerjaan.  Sebetulnya beberapa kali saya sempat mencoba untuk mengonsumsi makanan lebih sehat dan olahraga teratur, hanya saja saya kesulitan mengatur ritmenya bersama rutinitas harian saya, dimulai dari jam kerja dan jam tidur yang berubah. Dapat dikatakan hidup saya jauh dari kata teratur. Lalu saya harus mulai dari mana? Ok, jawabannya mulail...

2020, Terima Kasih

 Covid19 mengajarkan banyak hal, setidaknya kepada saya. Bukan hanya mengajarkan untuk lebih sadar pentingnya kesehatan dan kebersihan, tapi juga mengajarkan untuk berdamai dengan diri sendiri, dengan orang-orang terdekat, dengan masyarakat dalam komunitas, dan dengan sistem-sistem baru seperti PSBB yang memaksa kegiatan di luar menjadi terbatas.  Di tengah-tengah situasi ini, saya diingatkan dengan berbagai kebetulan, bahwa dalam kondisi yang sulit pun, saya dituntut untuk terus aktif belajar, bukan hanya untuk mengembangkan kemampuan baru atau memperbaiki hal-hal yang telah saya lakukan, tapi juga dituntut untuk menyadari bahwa saya masih punya banyak kekurangan, saya tidak lebih seorang medioker yang menganggap diri saya seorang ahli, padahal belum. Dibutuhkan jam terbang yang banyak, belajar lebih keras, komitmen dan dedikasi yang tinggi pada bidang yang saya tekuni. Terutama karena sejak SMA, saya sudah mengantongi izin dari orang tua untuk bersekolah di luar kota. Mening...

The Uncertainty

When we're upset, disappointed, and in troublesome as well, we came to think that God has a bigger plan than what we'd planned, God is creating a surprise, and firmly we kept reassuring ourselves that this too shall pass.  What if the plot twists? What if this misery is merely the best thing since sliced bread to begin something new and unpredictable? What if this sorrow and this darkness indicate a genesis, a harmony of a big explosion and we mistake it for a destruction? If God is preparing a gift with the most beautiful wrapped paper, more or less, let's think otherwise. What if this happiness is just a figment of our imagination, another great unhappiness? Everything seems uncertain, and the uncertainty is the only certainty that shall never quit to rise.