Langsung ke konten utama

Postingan

Tentangmu Avante

Avante, melewati kancing-kancing baju batik berbentuk batu aku kembali mengingat orang-orang berpakaian putih satu di antaranya adalah cahaya yang muncul dari luar jendela tersenyum di atas dahandahan seperti daun yang mengalir dari kelopak bunganya. Avante, aku mengingat suaramu tentang puisi yang musti aku terjemahkan maknanya tentang rongga yang musti aku penuhkan nafasnya tentang lalang yang musti ditebang ujungnya supaya ingatanku tentangmu Avante tetap rapat pernah saat itu Avante aku meletakkan kenangan di taman di antara kolamkolam teratai ungu : ada lagu kesukaanmu yang senantiasa kau perdengarkan di pengupingan malam. sebelum cahaya kembali tergelincir ke dalam cuacacuaca yang benama kelam dan aku belum lupa Avante kenangan kita telah begitu mengalir ke dalam kubah dan air rumah musi, '10 (mar)

Kewajiban Beriman Kepada Malaikat

Ringkasan Kewajiban Beriman Kepada Malaikat Allah Ta’ala beriman : Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya… (QS 2 : 285) Al-Baihaqi mengatakan di dalam Syu’abul Iman (Cabang-cabang keimanan), ”Beriman kepada malaikat mengandung beberapa makna. Pertama, membenarkan keberadaannya. Kedua, menetapkan bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah dan makhluk-makhluk-Nya. Seperti halnya manusia dan jin, mereka diperintah dan dibebani tanggung jawab. Mereka tidak berdaya kecuali atas ketetapan Allah atas mereka. Kematian mungkin untuk mereka, hanya saja Allah Ta’ala menetapkan masa yang jauh bagi mereka, dan tidak dimatikan sebelum ke masa itu. Mereka pun tidak disifati sifat kesyirikan kepada Allah Yang Mahamulia, dan mereka tidak disebut Tuhan, seperti yang disebutkan orang-orang terdahulu. Ketiga, mengakui bahwa mereka merupakan utusan Allah yang diutus-Nya kepada man...

Arsitektur Senja Jelaga

Cerpen Arsitektur Senja Jelaga Bermain pasir di pantai, wajah mama timbul perlahan. Perlahan dan terus saja hingga akhirnya makin jelas. “Kapan aku akan kembali jatuh ke pelukannya yang makin sempit? Sekedar untuk melepas rasa yang diberi nama rindu, dan mencium bau khas ketiaknya.” Kalimat itu begitu tegas terbesit dalam benak. Senja yang berkilat-kilat menambah kerinduan makin keras. ”Duh sepertinya langit tak bersahabat, seolah tahu rasa yang mengingatkan mama.” Kataku lagi sambil terus meninggalkan jejak yang makin memuncak. Ombak biru bergulung-gulung seperti baru saja menemukan rasa asinnya yang hilang berwindu-windu. Pun pohon kelapa yang ikut menarikan tarian khas dari pulau Hawai, seraya menyambut rasa asin yang tak lagi menghambarkan lautan. Setiap senja, pantai itu selalu memanggilku untuk terus bercanda, walau tak kunjung mengganti kerinduan pada mama. Tak heran bila orang-orang di sana, sangat mengenalku. Tak sering pula mereka memanggilku ”angin yang merdeka karena senja...

Jalan : Penghuni Malam yang Asing

: wi jalan 1 dimana aku harus memadamkan api sedang ini waktu hujan adalah malam dan penghuninya yang asing dengan banban motor mengalir denyut mereka yang dikejarkejar para laron dan penyinggahan adalah tempat pemadaman itu sendiri jalan 2 dari mana aku harus memulai sajak ini bila kata habis terpotong lalu bunting tibatiba tanpa ada sedikit sanggama dan bibir yang basah : sajak ini siasia jalan 3 siapa yang harusku kutuk di sini atau melempari rambut dengan gumpalan batu memagari tubuh dengan kerangkeng besi atau meniduri setiap geletar nafas luruh oleh ribuan gerimis gelombang leherku tersekat laut begitu asin dan pekat badan perahu badan ikan aku kini lebih memahamimu : sebagai penghuni malam yang memakai baju kedodoran jalan 4 jarak di sini musti kutuntaskan penghuni malam yang asing di setiap pemahaman akan jalan terselip makna entah segala apa jalan yang asing aku jadi jelma penghuni malam yang asing yang juga siasia sekayu, 19 nov 09

Edelweis

: ma karang 1 suatu saat akan datang gurun berbatu dimana debu adalah satu meruntuh di setiap tebingan dan gunung siap menganakkan perutnya memulai musim baru sedang cuaca di sini masih abadi dengan salju di puncak paling tinggi karang 2 lalu kau hidup serupa batang dengan daundaun yang siap mekar dan putik yang lagi menangkap suara pagi : dimana tempat yang baru ini sesungguhnya karang 3 burungburung yang menyangkar di sini berkomentar : ada anak baru yang ingin terjun dan meluruh seperti batu yang dahulu. karang 4 lalu kau merasa kesunyian yang amat lengkap dengan sisa gelinciran bulan yang ditata untuk matahari selanjutnya kesepian makin tergenapkan karang 5 (sebenarnya, kehadiranmu di bibir yang baru mengganti keganjilan dimana waktu tetaplah batu dan sampai akhirnya meluruh) sekayu, 24 nov 09

Kepada Kita yang Menyairkan Mimpi

: kanda tinggal satu mimpi lagi. malam di bawah langit bercuaca adalah kesunyian melihat ke dalam rohnya_pada kainkain selimut sprei dan bantalbantal yang belum tuntas kuramalkan. malam ini aku memeluk mereka. penglepasan akan penghabisan makna sebuah pelayaran di sana : akan sampaikah kepada mimpi yang dituju? menyairkan suara gemuruh takkan habis di bawah rakrak buku pun debu yang senantiasa mengembara keliling kota, bumi juga dipan yang berikutnya malam ini mari kita terjaga. menjaga bakal mimpi supaya besar sebagaimana mustinya gedunggedung di depan serupa hantaman yang berhenti menyairkan mimpi_pada tangan kita akan sampai di lekuk paling basah oleh keringat yang geletar, dan pada bulunya yang paling kering kita mengembara. entah sampai dimana kita berpegangan sampai di bahu atau pundak ketika sudah tiba di alis sendiri maka mata adalah hak segalanya_turun melewati rambut keriting kusut yang mengalirkan denyut gelombang lalu detak jantung yang bernafas : kita adalah hidung yang me...

Ini Cerita di Jalan

Oleh Mutiah Ayu Rasta ketika orangorang sampai pada waktu untuk mengemasi perjalanan yang sungguh gelisah, di antara mereka ada yang telah lebih dulu lewat sambil menyilang tangan, di pematang dan kursi mobil yang berjejeran : di situ mereka lekatkan sandaran berbungkus harapan tentang tanah yang mereka tinggalkan udara di balik kaca senantiasa menerpa kulit, tapi matahari yang dulunya menetaskan mereka tetap menyalanyala sebagai bayi 'tak cuma ditetaskan semata (kutitipkan meja makan dan dapur siang ini. bila malam ini paling temaram, di ceruknya panggillah bulan dengan seribu nama bahwa kau sedang kesepian. tentang jalan yang dititipkan untuk hari ini berilah lampu di tepian supaya orangorang tetap melaluinya dan lalu menyepikannya kembali) rentetan lagu selamat tinggal dipasang di pengupingan masingmasing : samasama mandi langit senja sudah waktunya harus ditutup rumahrumah dikunci tidak lagi sebagai kenangan bahwa kita pernah membangunnya untuk anakanak yang menetas di meja mak...