Langsung ke konten utama

I Stand For What I Love

If ever a thing triggered me to be consumed by anger, I kinda question "Should I react or sit and do nothing?" The same question is always spinning around my head. Regardless I should react or sit and do nothing become my decision later, I would also consider to let anger out of my skin assertively. That's it. Why? I'm here not to fulfill everyone's expectation, for instance I dress up a bit too much at least for a preschool teacher not to impress people. I put it on because I enjoy wearing it. It helps me to build my confidence, for at least 6 hours I'll be performing as an educator, listening and talking to my students (they are also my colleagues). For me, being a smart and wise educator won't be sufficient. If what I'm wearing doesn't please you, that's because I'm not for everyone. And I'm not asking for your unsolicited advices.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Terjemahan William Wordsworth - I Wandered Lonely as a Cloud

Hari ini, saya mencoba lagi menerjemahkan sebuah sajak berjudul I Wandered Lonely as a Cloud yang ditulis oleh William Wordsworth. Selamat membaca kawan! Semoga apa yang kita baca hari ini, membuat kita merasa penuh dan bahagia.  *** Umpama Segumpal Awan Aku Berkelana Aku berkelana umpama segumpal awan Yang melayang di ketinggian melampaui lembah dan bukit, Ketika tak sengaja kudapati sejauh mata memandang, Sehamparan bunga-bunga daffodil; Di dekat danau, di bawah rimbun pepohonan, Bunga-bunga daffodil melambai dan menari dikibaskan angin. Tak henti-hentinya laksana bintang-gemintang yang berkilatan Dan mengerjap di keluasan bima sakti, Bintang-gemintang itu, meregang dalam lintasan tanpa batas Di sepanjang tepian danau yang luas: Sekilas kusaksikan berpuluh ribu, Bunga-bunga daffodil saling beradu lewat tarian yang begitu lincah. Ombak di sebelahnya menggulung dan pecah; namun bunga-bunga daffodil Menghempaskan kilauan ombak itu dalam sukacita: Seorang penyair menjumpai dirinya te...

Dialog pada Diri

Saya percaya bahwa berdialog dengan diri dapat meningkatkan keintiman dengan diri sendiri. Biasanya, saya memulai dengan mempersiapkan satu atau dua pertanyaan, lalu dalam keheningan membiarkan diri sendiri secara luwes menjawabnya satu-persatu. Atau bisa saja bukan jawaban yang diperoleh, melainkan pertanyaan-pertanyaan baru yang lebih rumit dari sebelumnya. Tapi tidak mengapa, yang demikian itu membuat saya belajar untuk paham bahwasanya diri ini, terkadang bertingkah layaknya anak kecil yang ingin tahu banyak hal. Ia akan mengutarakan banyak pertanyaan pada siapa pun. Bukan semata untuk memuaskan keingintahuan, tapi juga untuk menyadari betapa saya tidak mengetahui apa-apa kecuali mulai melatih diri untuk lebih banyak bersukur, mengurangi intensitas mengeluh, tetap fokus dan melakukan yang terbaik pada hari ini, bila terjadi guncangan gunakan momen itu untuk berbenah dan tetap tenang, serta membiasakan diri untuk percaya pada diri sendiri untuk menyembuhkan luka-luka. Prosesnya tent...

Resting

The exhaustion is real. It's not tired merely, but also fatigue. I still am grateful for what I've experienced and achieved so far. That doesn't mean to win, that simply means to taste what it feels like moving forward when I still figure out how to gain the strength, patience, and sanity at the same time. 24 hours a day will never be enough to just rest and get enough sleep when you dream that big. God will answer the prayers. At this point, He knows what's best for me. I walk the journey with Him as my backing. He hugs me when I'm weary. He grants me resilience. He guarantees protection. Over all, I'm quite content that I make a move even if it seems still far away to step on the finish line. Back then, my uncle gently reminded me that once I reached the finish line, it means I'm dead and could never create more. I do remember when I dreamed bigger to start a sensory class, making the proposal, maintaining health - work - life balance, etc, it was a roller...