Langsung ke konten utama

Menandai Oktober

Sudah memasuki Oktober, sekaligus menjadi petanda menjelang penghujung tahun 2019. Selain menjadi lebih tua dari segi usia, saya berharap menjadi semakin matang dan bijak dalam mengambil keputusan.

Saya sedang bergumul dalam keresahan dan kegelisahan. Pergumulan ini bukanlah untuk hal-hal yang masif, tentu bukan, melainkan pergumulan kecil yang kolektif. Ketika sedang ingin bernapas, rasanya ada yang tersangkut di saluran pernapasan. Kelegaan adalah sesuatu yang mesti dicari dan diupayakan.

Di sela kesibukan yang semakin padat, ternyata masih ada semacam kehangatan dan ketentraman yang diam-diam menyelinap ke tubuh. Tidak hanya saat beristirahat sambil memadamkan lampu utama di kamar, tetapi juga saat sedang duduk di perjalanan menuju destinasi berikutnya, saya menemukan berbagai pertanyaan. Semuanya memiliki benang merah yang sama.

Sebagai seorang pengajar dan pendidik, saya bisa apa selain mengajar dan mendidik sekaligus menjadi siswa bagi murid di kelas. Sebagai seorang yang gemar membaca, saya bisa apa selain membaca. Sebagai seorang yang gemar menulis, saya bisa apa selain menulis, dan seterusnya. Lalu sebagai manusia, saya bisa apa? Saya bisa apa selain beradaptasi meskipun dalam prosesnya lembaran nyawa yang saya punya perlahan terkelupas.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Choices

There will always be the first time for everyone. The first time to hear, the first time to feel, the first time to move, the first time to breathe and cry, the first time to drink, the first time to eat, the first time to respond, the first time to play, the first time to play together and solve the very own problem, the first time to enter school, the first time to teach, the first time to talk and engage with numerous audience, the first to be and do anything. . .till it becomes one day. . .the thing that was hard and challenging, could become a piece of cake. It takes courage, it takes sweat and tears, it takes sleepless nights, it takes restless days, it takes commitment, it takes everything. Maybe it takes your happiness away either. It may seem scary and it may seem crazy. It requires self and stress management. I always have choices amongst these options. I commence to reflect. Back then, I love to  compare people, wether it would be worth it or not at all. I compare A to B...

Puisi Terjemahan Rumi - When I Die

Saya mencoba menerjemahkan sajak yang ditulis oleh Rumi berjudul ' When I Die '. Selamat membaca, kawan! *** Ketika Maut Menjemputku Ketika maut menjemputku ketika peti jenazahku disiapkan jangan kau kira aku merindukan kehidupan dunia jangan menitikkan air mata jangan sesekali meratapi atau berduka cita aku tidak sedang terjerembab ke dalam neraka para iblis tatkala kau saksikan jasadku dipikul berhentilah menangisi kepergianku aku tidak pergi sebaliknya aku sedang berada di sisi Sang Maha Penyayang bila kau beringsut  dari peristirahatan terakhirku jangan ucapkan selamat tinggal ingatlah bahwa pusara sejatinya hanya sebuah tirai yang menyembunyikan firdaus di belakangnya kau hanya akan menyaksikanku terbujur di liang lahad kini lihatlah kebangkitanku bagaimana mungkin yang kau saksikan menjadi sebuah akhir tatkala matahari tenggelam atau bulan terbenam yang terekam di matamu tampak seperti akhir juga seperti senja namun sebaliknya, yang kau saksikan adalah fajar saat maut men...

The Awakening of New Energy

This one week, my mind buzzed. I know I had a lot to express. I always feel the urge to talk to people and barely know when to stop. I love creating world with words. Words are playground to me. Sometime I could slide, hop, roll forward, slither, or simply sit and watching people passing by. It's not a bout fun, but it's the awareness of creating more and more. I will try to invest 1 hour each day to write, to think, to get lost, to be found, to express, and write again. Over and over. I hope there will be more people connect and read me. Insya Allah 🤍