Katanya hujan sebentar lagi
Memasuki musim yang basah juga berkabut
Lalu dingin dan mendung berhari-hari
Aku menyiapkan penampungan airnya lebih awal
Bukan untuk musim yang menjatuhkan sumber air
dari balik awan yang berat
Melainkan hujan yang deras dari mataku
Mata yang perih menatap ke depan
Asap dan kabut menjadi samar
Antara terbakar dan dibakar pun
sama biasnya
Dalam siaran tivi
Juga media massa online
Orang-orang berebut menyiarkan betapa kita digunduli dengan paksa
Maka membaralah aku
Api berkobar di tubuhku
Sumbunya tersulut tiada terputus
Percikannya dimulai dari nadi
Kemudian, menjalar dalam ingatan
Ia mencari jalan
menuju lahan baru
bagi kegagalan ekosistem,
celah regulasi, dan kelalaian manusia
Hujan sebentar lagi turun di hutan
Namun ada yang lebih deras mengalir di sana:
praktik tebang-bakar yang instan
disusul daftar pasien ISPA yang antre di rumah sakit
Kita lumpuh
Penerbangan kacau
Ketahanan pangan tinggal wacana
Anak-anak mengemis udara segar
Sudahkah kita cemas hari ini?
Di bulan ke delapan
Tak ada yang lebih tabah dari hutan yang dihabisi
Lantas aku bertanya dalam hati
Aku nyalakan lampu di atas meja kerja
Aku menulis bagaimana api bekerja
Ia memicu gesekan dalam hati
Panas dan berkilatan
Doaku, menjadi tangis
Sebentar lagi tumpah
Bunyinya masih sama
Aku padamkan api dalam tubuh
Dan kubiarkan saja terangnya yang tinggal
Aku pun kemarau
Aku biarkan kelenjar air mata bekerja
Menjadi gerimis
mengalir menjadi amin yang panjang
"Kupanggil hujan yang bersih
sejuk sanubari
Kupanggil angin pengusir kelabu
Sebab di sini hanya ada ruang untuk damai
Sebab di tubuh ini hanya ada hutan untuk abadi
Singkir segala api menjauh segala sedih
Kembalilah hutan,
Bukakan jalan
Jadilah tentram sebagai jawaban"
Jakarta, Agustus 2026
Komentar
Posting Komentar
hembusan yang akan disampaikan pada nona-angin