Langsung ke konten utama

DOG DAYS


aku pulang

Musim panas katamu
Adalah musim panen pagi hari
Saat matahari berhenti menjadi pongah
Diangkatnya hari-hari yang berat
Saat kemarin
Ketika masa lampau berhenti bekerja
Berhenti mengenang khidmat namamu
Berhenti berjalan ke tepian
Mengikuti kemana ia menggiring matamu
Membawanya pada tujuan yang asing
Dan rindu pulang

Ketika yang kau dapati bahwasanya dirimu telah hilang
Kau ingin kembali diam-diam

Seandainya ak berjalan
Tanpa mengingat kemana larinya sunyi
Kemudian meletup kecil di telinga
Merambat menuju rumah siput dan saraf yang teratur
Melingkar dan tidak bergerak
Meraih semua pandangan di hadapanku
Mengubahnya menjadi sinyal putus dan padam
Malam pun hablur
Ke dalam nyala kota yang bising
Polis yang bias
Sejarah-sejarah yang keliru
Palsu dan gampang beredar
Lalu di hadapanku
Di ujung jalan pulang yang terpisah dan sangah jauh
Kau bawa seribu tahun cahaya
Melesat bagai mimpi ajaib
Aku terkenang kisah orang-orang suci yang terlahir kembali
Setelah sekian kali mereka mati
Membenamkan segala yang tumbuh dan liar di kepalanya
Dibasuh dan dijernihkan

Musim panas adalah sunyi
Lelap tidur siang yang singkat

Di matamu
Aku pandangi wajahnya yang dingin
Semoga yang fana mendekap sedang yang kekal mengurapi
Dan menyertaiku

Jekardah, November 4 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Terjemahan William Wordsworth - I Wandered Lonely as a Cloud

Hari ini, saya mencoba lagi menerjemahkan sebuah sajak berjudul I Wandered Lonely as a Cloud yang ditulis oleh William Wordsworth. Selamat membaca kawan! Semoga apa yang kita baca hari ini, membuat kita merasa penuh dan bahagia.  *** Umpama Segumpal Awan Aku Berkelana Aku berkelana umpama segumpal awan Yang melayang di ketinggian melampaui lembah dan bukit, Ketika tak sengaja kudapati sejauh mata memandang, Sehamparan bunga-bunga daffodil; Di dekat danau, di bawah rimbun pepohonan, Bunga-bunga daffodil melambai dan menari dikibaskan angin. Tak henti-hentinya laksana bintang-gemintang yang berkilatan Dan mengerjap di keluasan bima sakti, Bintang-gemintang itu, meregang dalam lintasan tanpa batas Di sepanjang tepian danau yang luas: Sekilas kusaksikan berpuluh ribu, Bunga-bunga daffodil saling beradu lewat tarian yang begitu lincah. Ombak di sebelahnya menggulung dan pecah; namun bunga-bunga daffodil Menghempaskan kilauan ombak itu dalam sukacita: Seorang penyair menjumpai dirinya te...

Dialog pada Diri

Saya percaya bahwa berdialog dengan diri dapat meningkatkan keintiman dengan diri sendiri. Biasanya, saya memulai dengan mempersiapkan satu atau dua pertanyaan, lalu dalam keheningan membiarkan diri sendiri secara luwes menjawabnya satu-persatu. Atau bisa saja bukan jawaban yang diperoleh, melainkan pertanyaan-pertanyaan baru yang lebih rumit dari sebelumnya. Tapi tidak mengapa, yang demikian itu membuat saya belajar untuk paham bahwasanya diri ini, terkadang bertingkah layaknya anak kecil yang ingin tahu banyak hal. Ia akan mengutarakan banyak pertanyaan pada siapa pun. Bukan semata untuk memuaskan keingintahuan, tapi juga untuk menyadari betapa saya tidak mengetahui apa-apa kecuali mulai melatih diri untuk lebih banyak bersukur, mengurangi intensitas mengeluh, tetap fokus dan melakukan yang terbaik pada hari ini, bila terjadi guncangan gunakan momen itu untuk berbenah dan tetap tenang, serta membiasakan diri untuk percaya pada diri sendiri untuk menyembuhkan luka-luka. Prosesnya tent...

Puisi Terjemahan Rumi - When I Die

Saya mencoba menerjemahkan sajak yang ditulis oleh Rumi berjudul ' When I Die '. Selamat membaca, kawan! *** Ketika Maut Menjemputku Ketika maut menjemputku ketika peti jenazahku disiapkan jangan kau kira aku merindukan kehidupan dunia jangan menitikkan air mata jangan sesekali meratapi atau berduka cita aku tidak sedang terjerembab ke dalam neraka para iblis tatkala kau saksikan jasadku dipikul berhentilah menangisi kepergianku aku tidak pergi sebaliknya aku sedang berada di sisi Sang Maha Penyayang bila kau beringsut  dari peristirahatan terakhirku jangan ucapkan selamat tinggal ingatlah bahwa pusara sejatinya hanya sebuah tirai yang menyembunyikan firdaus di belakangnya kau hanya akan menyaksikanku terbujur di liang lahad kini lihatlah kebangkitanku bagaimana mungkin yang kau saksikan menjadi sebuah akhir tatkala matahari tenggelam atau bulan terbenam yang terekam di matamu tampak seperti akhir juga seperti senja namun sebaliknya, yang kau saksikan adalah fajar saat maut men...