: Kinu
kita baru saja menciptakan langit
awan tersenyum
melihat kita dari perut yang buncit
entah kenapa tak ada mata lain
selain mata kucing yang jauh di sana
berkali-kali mencoba menewaskan kita
dengan sepuluh cakarnya
bau kerupuk dan metafor
mengelabui kita dalam perahu
mengayuh darisatu sampan ke sampan berikutnya
sesekali kita mengeluh
pada rintik dan jerami
tempat kita menjatuhkan jarum jam
kia bertengkar
saling memaki
dan baling-baling berhenti
Jakarta, Sept 2011
Komentar
Posting Komentar
hembusan yang akan disampaikan pada nona-angin