Most of the times I was afraid of being misunderstood and it made me please people. Many times I doubt my self-worth and focus more on how people will judge me. That was the biggest mistakes I made. This body supposed to be the first one I should treat well with love, care, and respect. Sometimes I gave privilege to people to destroy my inner peace and it made me question my own femininity. To reset, it requires courage and honesty. It's ok to let people go in order to find myself again. I am happy and proud to choose myself amongst the insanity around me. I choose myself to heal. I choose myself to sip the sweetness of being grateful to have a great, resilient, and courage mind, body, and spirit. I will not keep rats and snakes close and it requires commitment to set boundaries. I forgive not to reconcile, but to keep my inner sanity and peace altogether.
Hari ini, saya mencoba lagi menerjemahkan sebuah sajak berjudul I Wandered Lonely as a Cloud yang ditulis oleh William Wordsworth. Selamat membaca kawan! Semoga apa yang kita baca hari ini, membuat kita merasa penuh dan bahagia. *** Umpama Segumpal Awan Aku Berkelana Aku berkelana umpama segumpal awan Yang melayang di ketinggian melampaui lembah dan bukit, Ketika tak sengaja kudapati sejauh mata memandang, Sehamparan bunga-bunga daffodil; Di dekat danau, di bawah rimbun pepohonan, Bunga-bunga daffodil melambai dan menari dikibaskan angin. Tak henti-hentinya laksana bintang-gemintang yang berkilatan Dan mengerjap di keluasan bima sakti, Bintang-gemintang itu, meregang dalam lintasan tanpa batas Di sepanjang tepian danau yang luas: Sekilas kusaksikan berpuluh ribu, Bunga-bunga daffodil saling beradu lewat tarian yang begitu lincah. Ombak di sebelahnya menggulung dan pecah; namun bunga-bunga daffodil Menghempaskan kilauan ombak itu dalam sukacita: Seorang penyair menjumpai dirinya te...
Komentar
Posting Komentar
hembusan yang akan disampaikan pada nona-angin