Most of the times I was afraid of being misunderstood and it made me please people. Many times I doubt my self-worth and focus more on how people will judge me. That was the biggest mistakes I made. This body supposed to be the first one I should treat well with love, care, and respect. Sometimes I gave privilege to people to destroy my inner peace and it made me question my own femininity. To reset, it requires courage and honesty. It's ok to let people go in order to find myself again. I am happy and proud to choose myself amongst the insanity around me. I choose myself to heal. I choose myself to sip the sweetness of being grateful to have a great, resilient, and courage mind, body, and spirit. I will not keep rats and snakes close and it requires commitment to set boundaries. I forgive not to reconcile, but to keep my inner sanity and peace altogether.
Saya mencoba menerjemahkan sajak yang ditulis oleh Rumi berjudul ' When I Die '. Selamat membaca, kawan! *** Ketika Maut Menjemputku Ketika maut menjemputku ketika peti jenazahku disiapkan jangan kau kira aku merindukan kehidupan dunia jangan menitikkan air mata jangan sesekali meratapi atau berduka cita aku tidak sedang terjerembab ke dalam neraka para iblis tatkala kau saksikan jasadku dipikul berhentilah menangisi kepergianku aku tidak pergi sebaliknya aku sedang berada di sisi Sang Maha Penyayang bila kau beringsut dari peristirahatan terakhirku jangan ucapkan selamat tinggal ingatlah bahwa pusara sejatinya hanya sebuah tirai yang menyembunyikan firdaus di belakangnya kau hanya akan menyaksikanku terbujur di liang lahad kini lihatlah kebangkitanku bagaimana mungkin yang kau saksikan menjadi sebuah akhir tatkala matahari tenggelam atau bulan terbenam yang terekam di matamu tampak seperti akhir juga seperti senja namun sebaliknya, yang kau saksikan adalah fajar saat maut men...
Komentar
Posting Komentar
hembusan yang akan disampaikan pada nona-angin