Langsung ke konten utama

Postingan

21.15

: piy dari sepucuk surat dan dingin tembaga, seorang ibu dengan sebakul derita menggali liang di matanya "untuk anak-anakku kalau tumbuh dewasa" begitulah katanya ketika kami bersiap-siap membagi mimpinya dan mimpi anaknya agar bisa bangun dan merayapi tugu batu di tengah kepalanya yang kopong dan jingga "barangkali ibu juga tak mau sia-sia. mengenai hal menggali seperti ini, ibu sudah terlatih sejak kecil dalam buaian. ibu masih ingat saat itu hujan turun sendirian. daun masih tumbuh di batang" sebab itulah kenangan berbicara dengan panjang. dengan sabar ditelannya tubuh kami perlahan. wajah kami tenggelam. tangan kami melambai, memeluk angin, menggendong segenap gemuruh di langit yang tengah gerimis -- tahoen Dua Nol Sebelas

Inception

T etapi kita melihat pada jalan yang lolong dan langit tanpa malam di atas kepala. Tetapi kita hirup sesak napas dan debu dan deru berupa gas alam yang hancur kesabarannya untuk tetap hidup di antara tipis daun di bukit atas kepala. Tetapi kita yang mendengar lagu dan menulis lagu dan suara dan lagu parau, dari tenggorokan kita yang terluka oleh kata dan bedil kata yang nakal bermain-main dengan pisau, kekecewaan mengalir menjadi darah di atas kepala. Tetapi kita yang hilang jalan sepulang bepergian di pasar swayalan dengan sepotong peta yang kita lentangkan dadanya selebar lautan yang meminum tetumbuhan dan tanah dan ranah, menuju kedalaman nubuat hingga menjadi makbul doa dan mantra di atas kepala. Tetapi kita yang menengadah tangan ke arah utara, di mana hidup awalnya muncul karena derita dan kesepian, telah menjadi-jadi bersama-sama raung yang dalam di atas air danau hijau di atas kepala. Tetapi kita tak mengerti apa-apa. Selain remuk keinginan yang tumbuh dewasa dan liar b...

HAMMOCK

Ever found a lady And a man One in a hammock Between two palm trees And a scissor under a leaf Ever found a lady And a man And his legs Cut down under the lips Of a kissing before the long road Sees the winding wind Ever found a lady And a man Of sleeping nor night and day One must be awaken up No longer after the name were framed Inside a lady And a man 2011

Perihal ORANG

: Gie ORANG lahir dari suara anjing dari patung yang menuang air ORANG hidup dengan setangkup payung di atas kepalanya dengan sepasang pipa susu yang mengalir dari bukit hijau yang beku ORANG memakan daging lewat sebilah pisau runcing di hutan ketiak yang bau ORANG memancing seekor ikan mirip belalang mirip kesabaran api panggang di tengah unggun sebelum jadi abu ORANG mulai khawatir melihat petir sebagai musuh yang dikirim Tuhan melihat makam di atas langit angin berteriak lewat knalpot kendaraan ORANG yang tak ingin pulang : bertikaman maut di tengah jalan sebelum gerbang rumah bersitegang  nyala lampu yang nyaris telanjang 2011

Stoikiometri

B entara dan pulau dari lima puluh lima kilometer batok kepala yang bulat menelan sepasang lengan dan tubuh sebidang kaki yang pincan                      melompat-lompat menuju lubang kancing baju 2011

Semua yang Suka KEJU

T entang sebatang KEJU dari mulut kita Adalah waktu kanak yang berjarak lima ratus kilometer dari jurang yang mengisahkan seorang pengeran negeri seberang Dari pelabuhan dinyalakannya lilin Membangun bayangan yang tak pernah disaksikan lewat jendela sore Tentang parutan KEJU dari bilah pisau Adalah sejenak amuk yang ingin kita bangun dari sepasang taring Yang berupa sinyal kartu dan ponsel yang kadang terlalu sering mengingat senyum jauh Atau bahkan beberapa pasang stiker yang akrab dijumpai di pintu kulkas Senyum dingin di atas bahu beruas Senyum lekat di bawah gigitan seekor nyamuk betina yang gemuk Sepintas mondar-mandir dengan sekantung darah yang dicuri dari catatan kita Tentang apa saja yang menjadi KEJU dan rasa asin tubuhnya Adalah kita yang mengerjakan puisi lewat jalan pintas yang tak selalu mulus melewati kegilaan Antara kita yang bilang tawa cukup dengan haha Tangis yang cuma jadi dengan akhiran baca titik koma sederet tangga yang diinjak dengan kereta dan Volvo ...

Pukul Delapan April

S esuatu yang paling sabar adalah ketika kita berjalan sendirian. Melihat burung-burung membuat sarang. Mendengar langit bergemuruh, beramai-ramai memanggil hujan. Jatuh perlahan di tubuh. Kita tak akan berlari dan menepi di bawah teras yang luas. Kita lebih merindukan dingin yang mengerat tulang. Berkali-kali bertalu menggigiti pengupingan kita. Meraibkan suara yang memanggil, menjadikan kita dibesarkan oleh mata: sepasang ruh yang kesepian. Sebelum kita sempat melarikan diri membawa kedua kaki, tanaman kangkung dan teratai yang bernafas lebih lama dari musim tahun depan telah lebih dulu sampai mencegah langkah. Tak ada detak jantung yang ditakuti. Bahkan perpisahan dengan bumi hanya menjadi perumpamaan kelahiran tunggal paling fatal. Sebab kesalahan apa pun sudah tentu bisa dimaafkan kecuali ada yang bersalah dan disakiti. Kereta api pukul empat sore, melaju kencang. Pemandangan hijau yang basah. Awan yang limbung di atas kawah. Serbuan hujan runtuh menyerbu badan. Pend...