Langsung ke konten utama

Postingan

Saya Katakan, "Sayalah yang di depan Pintu itu."

orang yang kucintai bertanya saat aku mengunjunginya, siapa yang berdiri di depan pintu? jawabku, aku. katanya, kau salah kenalkan diri ketika kita dipisahkan di dalamnya. setahun telah berlalu dan tatkala aku mendatanginya, kuketuk pintu dengan melemahkannya. dia bertanya kepadaku, siapa engkau, kujawab, kulihat hanya engkau di depan pintu. dia berkata padaku, kau telah tepat kenalkan diri dan kau tahu makna cinta, masuklah.* *dikutip dari La Tahzan, halaman 331

mencapai kenangan

_tersebab rasti_ /1/ "dengan ujung matahari paling lindap kenangan kita makin panjang ke barat mencapai bulan yang kian karat oleh malammalam cemar dan lagi pekat" /2/ "kita sama dengan daun yang goyang dari pohon yang banyak cabang"

tanah subuh

Burung telah datang membawa banyak benih biji dan sari yang terkandung dalam rahim tanah (tempat menggeraikan tubuh mereka saat gelombang hujan badai gulungan gerimis yang landai) siang menepi membawa burung terbang burung itu beramsalkan pohon yang banyak daun juga buah rambutan : yang asalnya dari benih biji yang banyak rambutnya sama seperti bulu burung yang kadang rontok menyentuh segala ujung pangkal yang membikin banyak tanaman yang mengalir dalam rahim tanah di mana pinggulnya : subur lebih dari segenap gerimis sebelum hujan mengalir banih ...

Sengai Perawan Tanpa Lelaki yang Datang

sepanjang perjalanan di hutanhutan sungai tetap sama mengalir mengairi tanahtanah yang belum ditumbuhi benih yang masih perawan tanpa lelaki yang singgah sekedar mencetak telapak kaki yang penuh dengan kotoran pada riaknya yang masih tenang dan belum gelombang semua masih bergelayut di tempat yang sama tanpa tanda kedatangan ada yang kosong di rahim mereka (benihbenih yang belum ditanam) "hai lelaki yang dulu singgah kemana nakalmu yang telanjang di sini telah berlapang selaksa bulu tanpa benang" sungai yang perawan membawa dirinya terus mengairi tanah seperti anak mereka yang harus diberi makan bekas kerinduan palembang, september 2009

Daun Yang Jatuh Bersama di Depan

Udara yang dihembuskan oleh burung yang bertengger di pohon mahoni ternyata lebih dingin dan lebih segar dari udara yang keluar dari nafas pohon-pohon itu sendiri. Saat semua panas tersedot ke dalam bulubulu hidung dan ronggarongga dada, mereka mencerna dan lalu menyimpannya di wadah yang kedap wangi (bau yang mencari kesegarannya). Setelah burung itu menghembuskan untuk kedua kalinya Basahlah semua tanah yang mengering karena terlalu banyak Menguapkan kerinduan hujan yang masih jauh untuk sampai dan Lagi membasahi setelah sempat lebih dulu udara itu menggamitnya. (bukan main beningnya dibanding kaca di permukaan air dangkal yang banyak ikannya) Lalu udara itu menangkap semua yang gelombang. Pernah saat itu daun yang jatuh bersamasama di depan (yang dulu bergelayut pada induknya) di ambil lagi supaya jangan mengganggu tanah dan pohon tidak gundul merata. Semua harmoni (antara udara yang keluar melalui burung, daun yang lepas setelah bergelayut, dan tanah kering) menggumpal dan lagi...